![]() |
| Foto: x.com |
Rabat — Prancis kembali menegaskan bahwa masa kini dan masa depan wilayah Sahara berada dalam kerangka kedaulatan Maroko, seraya menguraikan langkah-langkah konkret sebagai implementasi dari posisi tersebut.
Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Eropa dan Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot, dalam konferensi pers di Rabat usai pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri, Kerja Sama Afrika, dan Ekspatriat Maroko, Nasser Bourita.
Barrot menekankan, isu Sahara memiliki arti strategis, tidak hanya bagi Prancis, tetapi juga bagi stabilitas kawasan.
Ia mengingatkan kembali posisi yang sebelumnya disampaikan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, bahwa masa depan wilayah tersebut berada dalam kerangka kedaulatan Maroko.
Dalam konteks tersebut, Prancis juga menegaskan dukungannya terhadap rencana otonomi yang diajukan Maroko sebagai satu-satunya dasar yang dinilai serius, kredibel, dan berkelanjutan untuk mencapai solusi politik yang adil dan dinegosiasikan.
Lebih lanjut, Barrot menyebut Resolusi 2797 Dewan Keamanan PBB sebagai bagian dari dinamika positif yang mendorong dimulainya kembali dialog langsung antara para pihak terkait, dengan rencana otonomi sebagai landasan utama.
Sebagai bentuk implementasi nyata, Prancis telah memperluas kehadirannya di wilayah Sahara, termasuk melalui pembukaan pusat pengajuan visa, pendirian lembaga budaya Alliance Française di Laayoune, serta peresmian sekolah baru.
Di sektor ekonomi, Prancis juga meningkatkan keterlibatan melalui investasi perusahaan-perusahaan Prancis, dengan dukungan dari lembaga pembangunan Prancis, guna memperkuat pembangunan di wilayah tersebut.***


0 Komentar